Minggu, 07 Maret 2010

Hukum Daging Kodok dan Kepiting

Fiqih Kuliner
 
Dari segi dalil, kita menemukan sebuah hadits yang menyebutkan tentang memakan hewan kodok.

“Dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy bahwanya seorang tabib (dokter) bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat, maka Rasulullah SAW melarang membunuhnya.” (Ditakharijkan oleh Ahmad dan dishahihkan Hakim, ditakhrijkannya pula Abu Daud dan Nasa’I).

Dari hadits ini, para ulama umumnya mengatakan bahwa memakan daging kodok itu halal. Sebab Rasulullah SAW melarang untuk membunuhnya.
Sementara di kalangan ulama berkembang sebuah kaidah bahwa hewan-hewan yang diperintahkan untuk membunuhnya, hukumnya haram dimakan. Meski pun tidak tidak disebutkan bahwa hewan itu najis atau haram dimakan.

Demikian juga dengan hewan yang dilarang untuk membunuhnya, hukumnya pun haram dimakan, meski tidak ada keterangan bahwa dagingnya najis atau haram dimakan.
Seandainya boleh dimakan, maka tidak akan dilarang untuk membunuhnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Ahmadn Ishaq, Alhakim dari Abdurrahman bin Utsman at-Tamimi. Silahkan periksa kitab Al-Lubab Syarhil Kitab jilid 3 halaman 230, juga kitab Takmilatul Fathi jilid 8 halaman 62, kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 4 halaman 298 dan kitab Al-Muhazzab jilid 1 halaman 250.

Mereka yang mengharamkan kodok juga mendasarkan larangan ini dengan dalil bahwa kodok itu termasuk hewan yang menjijikkan secara umum.
Walhasil, kecenderungan jumhur ulama berpendapat bahwa kodok itu tidak halal dimakan berdasarkan dalil dan kaidah di atas.

Mereka yang Menghalalkan

Mereka yang menghalalkan adalah kalangan mazhab Maliki. Sebagaimana sudah seringkali dijelaskan, umumnya pendapat mazhab ini merujuk kepada dalil secara apa adanya. Bila di dalam dalil itu tidak tertuang secara eksplisit tentang najis atau haramnya suatu hewan, maka mereka akan bersikukuh untuk tidak mengharamkannya.
Mereka berpendapat bahwa memakan kodok dan hewan semacamnya seperti serangga, kura-kura dan kepiting (cancer) hukumnya boleh selama tidak ada nash atau dalil yang secara jelas mengharamkannya.

Dan mengkategorikan hewan-hewan itu sebagai khabaits (kotor), bagi mereka dianggap tidak bisa dengan standar masing-masing individu, karena pasti akan bersifat subjektif.
Ada orang yang tidak merasa bahwa hewanb itu menjijikkan atau kotor dan juga ada yang sebaliknya. Sehingga untuk mengharamkannya tidak cukup dengan itu, tapi harus ada nash yang jelas.
Dan menurut Al-Malikiyah, tidak ada nash yang melarang secara tegas memakan hewan-hewan itu. Silahkan periksa kitab Bidayatul Mujtahid jilid 1 halaman 656 dan kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 172.

Hukum Kepiting

Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, kepiting itu boleh dimakan karena sebagai binatang laut yang bisa hidup di darat, kepiting tidak punya darah, sehingga tidak butuh disembelih. Sedangkan bila hewan dua alam itu punya darah, maka untuk memakannya wajib dengan cara menyembelihnya.
Silahkan periksa kitab Al-Mughni jilid 8 halaman 606 dan kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 6 halaman 202.

15 komentar:

  1. artikelnya bagus untuk memperdalam ilmu
    terima kasih sheringnya

    BalasHapus
  2. Kenapa harus makan kodok? Padahal masih banyak makanan lain yang halal lagi baik. Salam kenal..

    BalasHapus
  3. wah.........kalo kita baca artikel ini,,,bisa dapat banyak wawasan ilmu nc,,,,,,,
    :):):):):):)

    BalasHapus
  4. Yang saya tahu, daging kodok bergisi tinggi. Tapi karena pribumi mayoritas Islam, maka pada zaman penjajahan, banyak kyai yang dalam ceramahnya dititipi pesan oleh penjajah untuk menyiarkan pengertian bahwa daging kodok haram dalam islam. Penjajah bermaksud agar pribumi tidak mengkonsumsi daging kodok. Karena penjajah tidak ingin pribumi cerdas dan bergizi baik, yang jangka panjangnya akan membahayakan kedudukan penjajah. Begitu bagi saya... Terimakasih. Yang saya tahu, daging kodok bergisi tinggi. Tapi karena pribumi mayoritas Islam, maka pada zaman penjajahan, banyak kyai yang dalam ceramahnya dititipi pesan oleh penjajah untuk menyiarkan pengertian bahwa daging kodok haram dalam islam. Penjajah bermaksud agar pribumi tidak mengkonsumsi daging kodok. Karena penjajah tidak ingin pribumi cerdas dan bergizi baik, yang jangka panjangnya akan membahayakan kedudukan penjajah. Begitu bagi saya... Terimakasih.

    BalasHapus
  5. Kyai di titipi pesan ya...???? kok aneh, setau saya dalam sejarah justru para kyai yg selalu memberikan motivasi menentang Penjajah Kristen..!!!

    BalasHapus
  6. Saya tidak mau ikut berpolemik tentang kedua pendapat di atas, itu tergantung keyakinan masing2 saja,....yang penting makan bukan hasil curian atau pun hasil korupsi yang jelas2 merugikan pihak lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pendapat yg sangat bijak krna Islam itu tidak memberatkan. Justeru Allah memberi banyak kemudahan untuk umatNya. Allah maha pengampun n maha penyayang.

      Hapus
  7. kalau pernyataan dari ulama yg menyatakn boleh dimakan/ tidak boleh di makan terus bagaimana ya hukumnya jika seumpama saya makan daging kodok ??

    BalasHapus
  8. haramnya kodok karena hidup di dua alam..saat jd telur dan kedebong katak hidup sepenuhnya di air pas dewasa dia hidup di darat dan air..

    BalasHapus
  9. hahaha
    KODOK sama KATAK tu udah beda jauh. emang sih serupa. tapi tinggalnya udah beda tempat. KODOK tinggal di daratan, tetapi jika KODOK mencari makan, dia akan turun ke air untuk mencari makanannya. jika KATAK, dia hidup di air dan dia mencari makan di air.
    KODOK ibaratkan seperti halnya manusia. manusia hidup di daratan. tetapi manusia akan turun ke air untuk mencari ikan untuk dimakan. bukan begitu?
    coba aja KODOK celupin di air selama 1 jam, dijamin KODOK itu akan mati karena dia tidak bisa bernafas. beda dengan KATAK. mau dicelupin sampe 1 hari ya gak akan mati karena dia mempunyai insang seperti ikan.
    dunia ini semakin dibodohi dengan ilmu tafsiran Al-Qur'an yang semakin ngawur.
    saya ini orang islam. saya tidak menjelekkan agama saya sendiri. makanya di kitab agama nasrani sampai dibuat terjemahan dalam 70 bahasa.
    misalnya kalau Al-Qur'an dibuat dalam terjemahan dalam semua bahasa di dunia, pasti tidak ada salah tafsiran yang membuat umat islam menjadi salah paham sampai akhirnya menjadi konflik karena biasanya jamaah ustad besar satu sama lain berbeda tafsiran berdasarkan ilmu yang jamaah dapatkan itu sudah berbeda isi.
    saya, Dadyo Mulya Pratama, SAYA seorang MUSLIM & saya tidak ingin dunia ini penuh konflik karena ajaran AGAMA.
    semua AGAMA mengajarkan kebaikan. bukan kekerasan!

    BalasHapus
  10. jangan jadikan cerita / dongeng zaman penjajahan sebagai dalil bung..!
    soal halal haram itu butuh dalil yang kuat dari hadist dan dari kitab para ulama terdahulu.
    soal hkum makan daging kodoq itu tergantung kita pengikut imam yang mana, tapi harus komit ikut salah satu imam, jangan di bagian enaknya ikut imam si A netar dibagian yang ndak enaknya ikut imam si B. ya begitulah kira2 saya buga orang awam tentang agama tapi mari kita jalani agami isalm ini dengan sepenuh hati dan keyakinan
    wassalam

    BalasHapus
  11. Bagi saya haram-halalnya memakan daging kodok/katak tidak ada nash-nya yang jelas baik dalam al-Hadits apalagi dalam al-Quran. Tiga mazhab fikih mengharamkannya, maka bagi yang menganut ketiga mazhab ini, hukum memakan kodok/katak adalah haram. Demikian juga sebaiknya bagi yang berpendapat bahwa hukum memakan kodok/katak adalah syubhat (meragukan). Tapi bagi yang mengikuti mazhab Malikiyah, kodok/katak itu halal dimakan. Semuanya adalah "benar" dalam pengertian relatif. Kebenaran mutlak hanya akan kita ketahui di akhirat dengan mengembalikan masalah ini kepada Pencipta Syariah, Allah swt. Wallohu a'lam bi showab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inilah cara berpikir Islami. Sangat setuju. Kita bisa bersatu untuk menuju kesejahteraan umat.

      Hapus
  12. Bagi saya haram atau halal daging katak (atau dalam bahasa jawa disebut KODOK IJO) masih meragukan. Hal ini berdasar kehidupan katak itu sendiri, kita menyimpulkan katak hidup di dua alam meski saya belum pernah melihat katak di daratan sepenuhnya (pasti sebagian tubuhnya tercelup di air). Kita tidak tahu apakah katak tersebut keluar dari air untuk mengambil nafas atau mencari makan seperti manusia yang masuk ke air untuk mencari makan, namun terlepas dari semua itu ajaran dalam islam menerangkan jika kita dalam keadaan ragu-ragu maka tinggalkan. Mungkin itu lebih baik dengan tidak mengambil resiko yang mungkin ada, terimakasih. Wassalamu'alaikum wr. wb. :)

    BalasHapus

Yang Gak jelas boleh ditanyakan, atau mau punya sanggahan silahkan atau pendapat lain, Monggo di kasih komentar..:D.

Info Singkat

Susu memiliki kandungan gizi yang hampir sempurna,,, Bahkan untuk vitamin larut lemak (A,D,E,K) semua terkandung dalam susu, dan semua vitamin yang ada pada bahan makanan lainnya telah terforifikasi ke dalam susu.